Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hal yang wajib kalian ketahui tentang Nabi Hud ‘Alaihissalam


Nabi Hud ‘Alaihissalam

Nabi Hud AS adalah nabi keempat yang diutus oleh Allah, dan namanya disebut dalam Al-Qur'an. Kisah hidupnya terkait erat dengan kaum 'Aad, yang merupakan keturunan Nabi Nuh AS dan tinggal di wilayah berbukit pasir di Arab yang dikenal sebagai Al-Ahqaf. Surat yang mengabadikan nama Nabi Hud AS dalam Al-Qur'an adalah Surat ke-11. Kaum 'Aad adalah salah satu suku tertua di dunia dengan peradaban maju dan memiliki bangunan tinggi, seperti yang disebutkan dalam QS. Al-Fajr ayat 6-8.

Simak hal-hal yang perlu diketahui tentang Nabi Hud ‘Alaihissalam:

1) Nabi Hud berasal dari kaum Ad, suatu kaum yang pernah tinggal di wilayah yang sekarang terletak di antara Oman dan Yemen. Saat ini, baik tempat tersebut maupun kaum Ad sudah tidak ada lagi.

2) Kaum 'Aad memiliki tubuh yang sangat besar dan tinggi, layaknya manusia raksasa. Mereka memiliki berbagai macam kekuatan, termasuk kekuatan fisik, kekayaan yang melimpah, kekuasaan politik, peradaban yang sangat maju, kebijaksanaan, dan banyak lagi.

3) Mereka juga dapat hidup hingga beribu-ribu tahun dan setiap individu dapat memiliki ratusan anak. Mereka terkenal dengan rumah-rumah yang sangat besar. Kemewahan mereka membuat mereka mampu membangun istana-istana megah di atas gunung, hanya untuk tujuan persembahan diri, bukan sebagai tempat tinggal. Dikatakan bahwa hingga Hari Kiamat, tidak akan ada istana sehebat yang dibangun oleh kaum Ad. Mereka juga begitu kuat sehingga dapat mencabut pohon dengan tangan saja.

4) Allah menyebut dalam Al-Quran bahwa kaum 'Aad adalah salah satu dari manusia yang paling perkasa yang pernah diciptakan, tidak ada manusia sebelum mereka yang sehebat mereka.

5) Namun, kaum 'Aad adalah kaum pertama yang memperkenalkan penyembahan tuhan selain Allah setelah zaman Nabi Nuh. Mereka mulai menyembah berhala.

6) Allah mengutus seorang nabi di tengah-tengah mereka, yaitu Nabi Hud, yang terus-menerus berdakwah kepada mereka agar bertakwa kepada Allah. Seperti kaum pada zaman Nabi Nuh, mereka mencemooh, mencaci, dan meremehkan Nabi Hud. Nabi Hud berdakwah dengan mengingatkan mereka bahwa mereka adalah keturunan orang-orang yang selamat dari zaman Nabi Nuh dan bahwa mereka harus bertakwa kepada Allah. Namun, mereka melemparkan berbagai tuduhan kepada Nabi Hud, menyebutnya gila, dirasuki, dan penipu.

7) Kaum 'Aad meledek Nabi Hud, "Di mana tanda-tanda Tuhanmu? Tunjukkan kepada kami! Kamu bilang Tuhanmu akan menghukum kami, tunjukkanlah buktinya! Tidak ada yang mampu menghukum kami karena kami terlalu kuat." Kaum 'Aad sangat sombong, dan mereka bertanya, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka lupa bahwa Allah jauh lebih kuat dari mereka.

8 ) Nabi Hud bersumpah bahwa dia tidak terlibat dalam kejahilan kaum 'Aad dan bahwa dia percaya kepada Allah. Kemudian Nabi Hud menantang mereka, "Bertarunglah dengan saya! Jika kamu benar-benar kuat, lawan saya! Saya berserah kepada Pencipta saya." Setelah mendengar tantangan Nabi Hud, mereka tidak merespons apa-apa, mereka hanya terdiam. Sedikit demi sedikit, rasa takut dan kepercayaan mulai tumbuh di dalam hati mereka.

9) Nabi Hud berdoa kepada Allah untuk menunjukkan kebenaran. Allah mengirimkan kemarau ke wilayah kaum 'Aad selama tiga tahun. Mereka mulai memohon kepada 'tuhan' mereka agar mengirimkan hujan.

10 ) Nabi Hud berdakwah lagi, dan dia memberi pesan kepada mereka bahwa jika mereka menginginkan hujan, mereka harus bertaubat dan memohon ampunan. Maka Allah akan memberikan hujan yang indah dan lebih banyak kekuatan kepada mereka. Namun, kaum 'Aad tetap keras kepala.

11) Kemudian, langit menjadi hitam di atas mereka. Mereka bersuka cita karena mengira hujan akan turun. Namun, yang turun adalah angin topan yang sangat kuat, dingin, dan berisik, selama tujuh malam dan delapan hari. Angin itu menghancurkan seluruh kaum 'Aad dengan kekuatan dahsyatnya. Mereka hancur total oleh angin topan tersebut.

12) Pelajaran yang dapat diambil dari kisah kaum 'Aad adalah sebelum Allah menghukum seseorang atau sebuah kaum, Dia memberikan berbagai nikmat seperti kekayaan, pasangan, kekuasaan, keturunan, kecantikan, dan sebagainya. Ketika kita terlalu larut dalam kenikmatan duniawi, Allah memiliki kekuasaan untuk mengambil semuanya kembali. Ingatlah bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, dan kita harus selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.